Sensasi Perjalanan Malam ke Malang, Mengingatkan Kebiasaan Dulu

Malang – Perjalanan ke Malang memang selalu menyenangkan terlebih pada sore hari setelah hujan reda, namun yang patut diwaspadai adalah daerah tikungan yang berkelok, sering kita jumpai lumpur berserakan di jalan akibat terbawa air hujan dari tebing. Ban si Grand sempat mengalami traksi sedikit ketika sedang bermanuver, untungnya dalam kecepatan rendah dan produk IRC tipe NR69 mampu mengkondisikan dengan baik. So harus ekstra hati-hati dan tidak boleh gegabah.

Dengan kecepatan sedang saya perhatikan beberapa titik longsor sedang mengalami perbaikan, bahkan ada pengeprasan tebing, pertanda akan ada proyek pelebaran jalan. Sampai di dewi sri Pujon saya sempatkan berhenti sejenak untuk sekedar menikmati bakso, maklum hawa dingin khas pegunungan memang layak apabila disambi kuliner hangat hehehe

Ochim0503masih ada kebulnya hehehe iya kuliner bakso lagi ini, maklum kalau ke Malang belum menikmati bakso Malang maka rasanya seperti belum ke Malang, halah…

Bakso yang ada disini yang pas tikungan pemandian dewi sri ini memang menjadi langganan tiap ke Malang karena dekat dengan jalan, namanya bakso utama. Menikmati bakso sambil mejeng lihat kendaraan lewat itu memang menyenangkan hehehe..

Ochim0504Berhubung waktu sudah mau malam (17:00) saya dan saudara kembar saya (http://ochimkediri.wordpress.com/) dan adik saya yang paling kecil pun segera bergegas menuju Malang. Suasana mendekati malam, melewati wisata payung pun sudah mulai gelap. Sebenarnya mau berhenti juga tapi suasana tidak enak, maka kami meneruskan perjalanan sampai di Masjid Alun-alun Batu untuk menunaikan sholat Magrib terlebih dahulu sambil menikmati geliat suasana depan Masjid, alun-alun Batu. 😀 sepertinya pas sekali mengajak keluarga kesini.

alun batuDirasa cukup langsung turun menuju arah Dinoyo, sampai kampus UMM kemacetan mulai terjadi, roda dua maupun roda empat tidak bisa bergerak sama sekali, hanya sesekali jalan itu pun sedikit, kondisi ini terjadi sampai di perempatan Sumbersari atau perempatan ITN. Alhasil perjalanan dari kampus UMM ke Sumbersari tenpat kos adik jl. veteran dalam saya tempuh 1 jam. Benar-benar dibuat heran, belum ada 5 tahun saya meninggalkan Malang populasi kendaraan semakin banyak. Dulu dari kampus UIN menuju Swalayan Sardo saja tidak perlu desak-desakan, sekarang bisa sampai 15 menit.

Setelah urusan selesai di Malang kurang lebih jam 20:00 kami pun pulang, kali ini rutenya diubah dari perempatan Sumbersari lurus arah kampus ITN, melalui jalan tikus yang nantinya tembus di Dau. Meskipun tidak luput dari kemacetan tapi masih lebih baik daripada lewat Dinoyo. Melewati alun-alun Batu kembali sampai di wisata payung suasana jalan mulai sepi, dan ternyata di area wisata payung turun kabut, hawa dingin kembali menyelimuti perjalanan kami. Ternyata di kawasan payung masih ada kabut, awalnya saya tidak mengira mengingat kondisi saat ini Malang sudah tidak sedingin dan sesejuk dulu waktu saya masih kecil tinggal di Malang. Ternyata di wisata payung masih ada kabut meskipun tidak setebal dulu yang sampai kendaraaan harus jalan pelan sekitar 15kpj karena saking tebalnya kabut, hal ini terjadi sekitar 20th yg lalu.

kabutSetelah melewati pasar pujon dan pemandian dewi sri kami berdua beriringan dan pasang lampu jauh karena jalanan yg kami lalui mulai jauh dari pemukiman penduduk, gelap pun semakin gulita berkendara pun ekstra hati-hati namun tetap memacu kecepatan tidak lebih dari 60kpj, karena jalanan licin. jarang sekali berpapasan dengan kendaraaan lain atau menemui kendaraan lain yang searah jadi hanya kami berdua dengan dua motor. Maklum sampai daerah Pujon sudah jam 21:30, aktifitas lalu-lintas semakin berkurang. kami harus riding dengan hati-hati tidak boleh lengah karena kondisi aspal masih basah yang pastinya licin, ketika melewati kawasan desa Pait pun masih banyak ceceran lumpur sisa hujan tadi sore.

Hingga melewati Kasembon perjalanan lancar tidak ada hambatan yang berarti termasuk kedua motor kami, hanya motor saya si Grand yang lampunya kurang terang yang mengharuskan saya riding dengan membuka helm agar penglihatan saya lebih maksimal. Sensasi berkendara pada malam hari sering kami lakukan dulu waktu masih sama-sama kuliah di Malang, pulang malam mulai jam 21:00 dari Malang ke Kediri atau sebaliknya sering kami lakukan, berangkat dini hari jam 03:00 pun pernah juga kami alami dengan dua motor yang dulu sama-sama memiliki Honda Grand dengan tahun yang sama hanya beda warna striping.  Alhamdulillah tidak pernah mengalami hal ganjil atau pun kerusakan pada motor karena kami selalu memastikan motor dalam keadaan fit, terutama ban. Demi menghindari hal ganjil tidak lupa kami selalu bersholawat dalam perjalanan 🙂

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Riding dan Kuliner dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sensasi Perjalanan Malam ke Malang, Mengingatkan Kebiasaan Dulu

  1. Maskur berkata:

    duluuuuuuuuuuu tahun 2004 beberapa kali perjalanan Solo – malang via Pujon, rute panjang berkelok kelok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s