Pengalaman Mudik ke Sidoarjo Terbayang Macetnya Mojokerto

Sebelumnya Minal Aidzin Wal Faizin yaa..Semoga kita kembali dalam keadaan suci dan Memperoleh kemenangan..Amin.

Saya pribadi mengucapkan mohon maaf lahir batin, apabila ada yg tidak berkenan mengenai tulisan saya mohon diikhlaskan, ini semua semata-mata karena suatu keterbatasan saya dalam menulis. Dan Semoga kita semua selalu dalam keadan bersyukur disetiap masa dan suasana, Amin. Kemarin waktu momen lebaran tidak sempat menulis karena kesibukan saya dirumah dan mudik, baru sekarang ini bisa menulis kembali.

Seperti halnya masyarakat yang lain ketika lebaran selalu diikuti dengan “ritual” pulang kampung termasuk saya. Suatu kegiatan yg tanpa komando apabila sudah memasuki H-10 masyarakat yg merantau ke kota berduyun-duyun untuk mudik ke kampung halaman. Pada H+4 saya mudik ke Sidoarjo, tepatnya daerah Krembung, tempat asal istri saya, dari pagi saya sudah terbayang akan macet dan ruwetnya jalanan terutama jalur arteri menuju Surabaya maupun ke arah Pasuruan dan Sidoarjo terutama perempatan terminal Mojokerto yg akan saya lewati nanti. Maka dari itu saya putuskan untuk berangkat pagi sekitar jam 07:00 dari rumah Kediri dengan prediksi bahwa sampai Sidoarjo jam 08:30, si Maxxi sudah saya persiapkan beberapa hari yg lalu mulai dari servis rutin sampai dimandikan dan “dirias” biar kinclong 😀 Dengan keadaan yg seperti itu Insya allah tidak akan ada kendala dijalan. Setelah saya persiapkan safety gear dan tas ransel yg berisi beberapa baju, saya berangkat tepat jam 07:00 sendirian karena istri sudah ada di Sidoarjo.

Mulai dari perempatan kandangan sepertinya sudah mulai padat merayap, namun keadaan tersebut segera terurai ketika menjauh dari pusat keramaian di pasar kandangan. Saya geber si Maxxi dengan kecepatan 60km/jam. Jalur yg saya lalui yaitu menuju arah jombang,  Di pasar ngoro sampai pertigaan Mojoagung perjalanan cukup lancar. Namun kondisi jalan yg bergelombang dan berlubang membuat saya harus lebih berhati-hati karena keadaan jalan yg seperti ini biasanya kendaraan lain melaju dengan zigzag dan tidak stabil. Inilah salah satu alasan kenapa ukuran ban depan si Maxxi saya ganti dengan ukuran diatas standarnya karena untuk meningkatkan kenyamanan apabila harus melalui jalan yg tidak stabil seperti jalur ngoro-mojoagung ini.

Sampai di pertigaan Mojoagung baru masuk jalur arteri Madiun-Surabaya, ketika mau belok kanan menuju arah Mojokerto (itu berarti harus nyebrang), tiba-tiba ada polisi yg mengarahkan jalur supaya belok ke kiri, strategi ini diterapkan untuk menghindari penumpukan kendaraan yg terjadi di pertigaan Mojoagung karena bertemunya jalur alternative menuju jalur arteri  volume kendaraan cukup banyak di musim lebaran ini.

Ketika memasuki jalur arteri terjadi penumpukan kendaraan yg cukup banyak yg mengakibatkan kemacetan, hal ini dikarenakan pertemuan jalur alternative tadi, namun keadaan berubah menjadi padat lancar ketika pelan-pelan menjauhi pertigaan Mojoagung dan kendaraan yg lain pun menggeber kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Saya pun juga menambah kecepatan yg semula 60km/jam menjadi 70km/jam hehehe naik sedikit tapi saya menikmati perjalanan ini 😀

Sepanjang perjalanan kondisi jalan dalam keadaan mulus dan lebar, meskipun kadang bertemu lubang namun masih bisa dilahap dengan tenang oleh ban depan yg berukuran sedikit lebih besar yg dapat mengurangi hentakan kondisi jalan yg cenderung tidak stabil.

Keadaan berubah ketika mulai mendekati perempatan terminal Mojokerto, males dengan kondisi yg harus sering tarik tuas kopling dan harus cari celah untuk bisa lewat diantara kendaraan roda empat atau pun lebih. Sebenarnya bukan karena kopling manualnya sih, namun siapa sih yg suka dengan keadaan macet apalagi keadaan sudah berubah menjadi panas hihihihi namun keadaan seperti ini biasanya saya siasati dengan mensugesti kembali pikiran bahwa perjalanan ini merupakan sebuah refreshing, menikmati keadaan jalan meskipun macet, terkadang kondisi macet ini saya pergunakan untuk “mejeng” melihat-lihat kendaraan terlebih motor yg berada disamping atau depan saya hehehe..cara ini cukup ampuh untuk menghilangkan kejenuhan ketika kondisi macet.

Ketika sudah bisa melewati perempatan terminal Mojokerto dengan belok kanan menuju arah Sidoarjo kendaraan masih padat namun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Kondisi padat merayap ini terjadi sampai pasar Mojosari dan saya sempatkan istirahat sebentar untukmenenangkan pikiran hihihi kaya banyak masalah saja, kemudian menuju pertigaan taman lalu lintas dan terminal Mojosari.

mejeng sik 😀

plakatnya masih rangka,diambil foto beberapa waktu yg lalu

Sampai Mojosari sudah dekat maka saya pun berjalan pelan hingga sampai timur terminal Mojosari saya belok kiri ambil jalur menuju Krembung. Alhamdulillah sampai dirumah dengan selamat dengan keadaan cukup capek karena panas dan macet..padahal perjalanan tidak sampai 2 jam sudah capek hihihihi ini dikarenakan kondisi jalan yg macet, bikin boros pikiran saya 😀

Langsung minum air putih yg banyak dan acara puncaknya adalah makan mujair goreng kesukaan saya hehehe dengan sambal terasinya yg nyos bikinin istri tercinta, ikannya digoreng garing 😀

hmm garing..

 

 

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Riding dan Kuliner dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengalaman Mudik ke Sidoarjo Terbayang Macetnya Mojokerto

  1. Kelana 97 berkata:

    Sama sama Sob, Minal aidin wal faidzin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s